Skip to content

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Home » Microtia: Pengertian, Gejala, Penyebab, dan Pengobatan

Microtia: Pengertian, Gejala, Penyebab, dan Pengobatan

  • by

Microtia merupakan penyakit yang bermula sejak seseorang berada di dalam kandungan (janin).

Dr. Rosa Falerina, Sp.THT-KL pada siaran langsung di Instagram Ruang Mendengar menuturkan bahwa secara global, kasus kejadian penyakit ini terjadi pada 1 dari 10 ribu kelahiran bayi.

Di Indonesia sendiri, belum ada data yang pasti mengenai angka kasus kejadiannya, karena hingga saat ini masih berlangsung pengumpulan data. Selain itu juga minimnya pengetahuan tentang microtia oleh para orang tua Indonesia menyebabkan pendataan menjadi terhambat.

Namun dr. Rosa menambahkan, pada setiap harinya, 1-2 orang tua bergabung di grup Whatsapp yang membahas Microtia dikarenakan anaknya yang baru lahir mengidap penyakit tersebut.

microtia gambar: healthline.com

Pengertian Microtia

Microtia sebenarnya merupakan kondisi kecacatan yang muncul semenjak bayi lahir, yang dimana kondisi telinga bagian luar (daun telinga) tidak tumbuh dan berkembang secara normal.

Microtia secara bahasa sejatinya diambil dari kata asing, tersusun dari 2 kata yaitu Micro dan Otia. Micro berarti kecil, sedangkan Otia merupakan nama kedokteran yang berarti organ telinga. Sehingga kalau digabungkan dapat memiliki arti telinga yang kecil.

Menurut KBBI, microtia atau mikrotia memiliki arti daun telinga yang kecil. Ukuran telinga yang kecil tersebut sebenarnya bervariasi.

Namun secara umum, penderita penyakit ini memiliki daun telinga kecil yang sangat jelas tanpa harus memperhatikan dengan teliti, bahkan ada yang hanya sebesar sebuah kacang.

Namun, penderita penyakit microtia ini tetap memiliki saluran telinga namun dalam keadaan yang sempit (canal stenosis), atau bahkan bila kondisinya parah maka penderitanya tidak memiliki saluran telinga (canal atresia).

Gejala Microtia

Secara umum, gejalanya dapat dilihat dengan mata telanjang tanpa bantuan alat khusus. Namun diantara gejala-gejala tersebut dapat dibedakan menjadi:

1. Bentuk telinga luar (daun telinga) terlihat tidak normal

Daun telinga umumnya memiliki bentuk yang mengembang. Ketika bentuk daun telinga terlihat tidak mengembang seperti terlipat atau tidak timbul beberapa bagian tulang rawannya, maka bisa jadi itu merupakan gejala dari microtia.

2. Ukuran telinga luar lebih kecil dari ukuran telinga normal lainnya

Daun telinga bila telah tumbuh maksimal rata-rata memiliki panjang 6,3 cm. Bila kamu temukan terdapat panjang telinga kurang dari angka rata-rata tersebut maka bisa jadi seseorang tersebut menderita microtia.

3. Tidak memiliki telinga bagian luar

Hal yang paling mudah terlihat ketika kamu curiga seseorang mengidap penyakit microtia adalah bahwa seseorang tersebut tidak memiliki daun telinga. Hal ini merupakan tingkatan lanjut dari seseorang yang mengidap microtia.

Tidak hanya hal-hal di atas yang dapat mengindikasikan seseorang mengidap penyakit microtia. Microtia juga memiliki beberapa tingkatan atau derajat sesuai dengan kondisi fisik yang dapat dikenali.

Microtia

gambar: microtiaandatresiacare.com

  1. Microtia derajat 1

Tingkatan ini merupakan tingkatan yang paling ringan. Bayi yang lahir memiliki bentuk daun telinga yang normal seperti bayi pada umumnya namun dengan ukuran yang lebih kecil.

  1. Microtia derajat 2

Tingkatan ini juga masih dikategorikan ringan. Gejala yang terlihat berupa tidak tumbuhnya sekitar 1-2 bagian telinga.

  1. Microtia derajat 3

Pada tingkatan ini, sudah termasuk tingkatan yang lanjut karena gejala fisik yang timbul mudah sekali teridentifikasi, yaitu berupa sudah tidak bisa terdeteksinya lagi anatomi dari telinga.

  1. Microtia derajat 4

Pada derajat 4 ini, gejala yang terjadi sudah sangat parah. Umumnya gejala fisik yang timbul adalah tidak adanya daun telinga yang tumbuh dan berkembang, atau bahkan hilangnya saluran telinga.

Menurut Centers for Disease Control and Prevention, belum diketahui secara pasti mengenai derajat mana yang sering terjadi. Namun umumnya penyakit microtia hanya terjadi pada satu sisi telinga saja.

Penyebab Penyakit Microtia

Microtia terjadi karena tidak sempurnanya daun telinga tumbuh ketika janin masih di kandungan. Berikut tahapan pertumbuhan daun telinga yang normal:

  • Pada telinga normal, daun telinga tumbuh dan berkembang dari 6 buah fase sel
  • Muncul sebuah bagian yang disebut sebagai Tonjol (hilloks).
  • Tonjol ini kemudian terbagi kepada 4 bagian pada setiap sisi dari telinga bagian luar. 

Microtia terjadi karena keempat tonjol tersebut tidak menyatu dan bertumbuh secara tidak sempurna. Kemudian, semakin berat keadaan yang terjadi maka bagian telinga yang tumbuh akan kurang terbentuk.

Penyatuan tonjol-tonjol tersebut sejatinya merupakan proses yang sangat rumit yang terjadi pada janin di dalam kandungan, sehingga tidak jarang pada akhirnya terjadi sebuah ketidaksempurnaan.

Selain itu, microtia terjadi karena beberapa faktor seperti:

  1. Sindrom Treacher Collins

Yaitu kelainan yang menyebabkan ketidaknormalan bentuk tulang pipi, dagu, hingga rahang.

  1. Sindrom Goldenhar

Yaitu kelainan secara genetik yang menyebabkan bayi lahir dengan bentuk telinga, hidung, rahang, dan bibir secara tidak sempurna.

  1. Ibu kekurangan gizi selama mengandung

Gizi sangat penting untuk tumbuh kembang janin. Gizi yang paling dibutuhkan yaitu asam folat dan karbohidrat. Kekurangan dua zat tersebut dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan janin.

  1. Penggunaan obat-obatan yang menghambat pertumbuhan janin

Penggunaan obat yang menghambat pertumbuhan janin misalnya adalah obat penghilang jerawat seperti golongan isotretinoin selama masa kehamilan dapat memicu terjadinya cacat pada janin seperti microtia.

  1. Faktor keturunan dari orang tua

Faktor keturunan (genetik) menjadi salah satu pemicunya. Contohnya seorang ibu yang pernah melahirkan anak yang mengidap microtia maka memiliki peluang sebesar 5% bagi anak selanjutnya bisa mengidap microtia.

Pengobatan Microtia

Sebelum melalui tahap pengobatan, kamu dapat melakukan pencegahan terhadap penyakit microtia. Salah satu cara mudah untuk mencegahnya adalah dengan memperhatikan asupan gizi selama periode kehamilan.

asam folat

gambar: pixabay.com

Asam folat, menurut Jurnal Penelitian Kesehatan Dharma Husada Bandung pada artikel yang berjudul Manfaat Asam Folat bagi Ibu Hamil dan Janin, dapat mencegah terjadinya cacat bawaan yang diakibatkan ketidaksempurnaan penutupan tabung saraf.

Microtia yang terjadi apabila masih dalam kadar yang ringan dan sampai tidak mengganggu fungsi pendengaran, maka dianggap tidak membutuhkan penanganan khusus seperti operasi.

Operasi dirasa perlu untuk dilakukan apabila penderitanya mengalami gangguan fungsi pendengaran atau bahkan hingga mengalami tuli.

Adapun jenis-jenis operasi yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut: 

  1. Operasi cangkok daun telinga

Proses operasi dilakukan dengan pengangkatan tulang rawan pada tulang iga pasien demi membentuk daun telinga buatan (artificial). Operasi cangkok ini baru bisa dilakukan ketika anak telah berumur 6 sampai 8 tahun.

  1. Pemasangan alat bantu dengar di dalam telinga

Sebelum melakukan pemasangan alat bantu dengar, dokter akan mengobservasi kemampuan mendengar dari pasien untuk menentukan seberapa jauh intensitas keparahan gangguan pendengaran yang dialami.

Pemasangan alat bantu dengar ini bertujuan untuk mendukung aktivitas keseharian penderita microtia, contohnya agar penderita microtia bisa menjalankan aktivitas pembelajaran di sekolah dengan baik.

  1. Membuat telinga palsu

Telinga palsu dipasang dengan tujuan untuk memperbaiki keindahan dari bentuk telinga agar lebih bagus dipandang. Pembuatan telinga palsu ini dilakukan apabila operasi cangkok daun telinga tidak membuahkan hasil ataupun gagal.

Kapan Harus ke Dokter?

Apabila kamu mendapati seseorang yang mengalami kondisi telinga luar terlihat kecil, maka kamu dapat langsung menghubungi dokter untuk ditindak lanjuti.

Hal tersebut ditujukan agar penderita penyakit microtia dapat hidup layaknya manusia yang mempunyai bentuk dan fungsi telinga dengan normal. Semakin dini untuk ditangani maka akan semakin besar peluang penderitanya untuk sembuh.

Sobat Pintar tidak perlu khawatir, apabila kamu merupakan seseorang yang sibuk dan tak memiliki waktu untuk melakukan konsultasi langsung dengan dokter, maka kamu dapat mengunduh aplikasi SmartRSCM dari SiapDok di App Store maupun Play Store.

Dengan aplikasi SmartRSCM kamu dapat merasakan kemudahan untuk melakukan telekonsultasi bersama dokter yang terkait. Hanya perlu unduh, log in, daftar sebagai pasien baru, bayar, dan kemudian telekonsultasi kesehatan secara online siap dilaksanakan!

(Muhammad Rifqi Athallah)

Ditinjau Oleh: 

Referensi

Jurnal Penelitian Kesehatan Dharma Husada Bandung Vol.16 No.1. Manfaat Asam Folat bagi Ibu Hamil dan Janin. Diakses pada 2022.

Jurnal Garuda Kemdikbud Vol.7 No.15. Mikrotia. Diakses pada 2022