Skip to content
Home » Gangguan Seksual dan Gender: Penyebab, Gejala, Penanganan

Gangguan Seksual dan Gender: Penyebab, Gejala, Penanganan

Gangguan Seksual dan Gender

Penderita gangguan seksual dan gender biasanya tidak menyadari atas kelainan yang mereka alami. Alasan tersebut yang seringkali disepelekan hingga akhirnya dapat membahayakan diri mereka sendiri dan orang lain.

Terdapat 2 jenis gangguan seksual seperti, parafilia (perilaku komplusif seksual) dan gangguan identitas gender.

Gangguan seksual adalah kondisi ketika seseorang terangsang dengan membayangkan atau terlibat pada korelasi seksual yang aneh serta dilakukan secara berulang. Gangguan ini bisa sangat berbahaya bagi fisik dan psikologis pasangan mereka.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2019 menyatakan bahwa gangguan identitas gender tidak lagi menjadi sebagai gangguan mental, dan pernyataan tersebut telah disetujui oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Meskipun telah dihapuskan dari kategori gangguan mental, sebelumnya gangguan identitas gender sering diidentikan oleh para transgender. Hal tersebut dikarenakan mereka dianggap mengalami gangguan persepsi individu yang berbeda dengan jenis kelaminnya.

Gangguan seksual saat ini lebih diidentikan dengan gangguan atau kelainan dalam melakukan hubungan seksual.

Gangguan seksual dapat menyebabkan terjadinya kekerasan seksual, dan penderita gangguan seksual lebih banyak terjadi pada laki-laki. Alasannya karena sistem patriaki laki-laki sangat kuat dan merasa dominan. 

Perempuan dan anak-anak seringkali menjadi korban dari penderita gangguan seksual.

Angka kasus kekerasan seksual berdasarkan data Komnas Perempuan Indonesia terus meningkat. Pada tahun 2020 jumlah kekerasan seksual terhadap perempuan terjadi sebanyak 962 kasus.

Penyebab Gangguan Seksual Dan Gender 

Gangguan Sexual

Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan seseorang mengalami gangguan seksual. Berikut penjelasan singkat mengenai faktor-faktor penyebab gangguan seksual:


  1. Faktor Hormon

Ketidakseimbangan hormon sering menjadi alasan paling umum terjadinya gangguan seksual. Hal tersebut dikarenakan hormon sangat berperan besar dalam kegiatan seksual.


  1.  Gaya Hidup

Gaya hidup tidak sehat merupakan suatu kebiasaan yang dilakukan, sehingga sangat erat dan dapat mengubah tingkah laku dan pola pikir.


  1. Pola Pikir

Banyak kasus gangguan seksual terjadi akibat pola pikir yang terlalu cepat memvonis diri mereka sendiri. Sehingga hal tersebut dapat membuat penderita melakukan sesuatu yang berlawanan seperti tindakan seksual yang menyimpang.

Gejala Gangguan Seksual 

Gejala yang terjadi pada penderita gangguan seksual dapat dilihat dari tingkah laku mereka kepada lawan jenis atau pasangan mereka. Ada beberapa gejala yang paling sering terlihat dari penderita gangguan seksual.

Biasanya seseorang penderita gangguan seksual akan memiliki tingkah laku cenderung tertutup dan sulit bersosialisasi dengan banyak orang. Karena biasanya penderita memiliki trauma pelecehan saat kecil, kekerasan, dan gangguan psikologi lainnya.

Jenis-jenis Gangguan Seksual Dan Gender 

Ada berbagai macam gangguan seksual yang dapat terjadi. Berikut beberapa jenis gangguan seksual yang paling umum terjadi:

  • Fetisisme

Fetisisme adalah gangguan seksual yang menyebabkan penderitanya memiliki gairah seksual terhadap benda mati. Contohnya seperti robot, boneka, celana, mayat atau hal lainnya yang tidak hidup.

  • Pedofilia

Gangguan seksual pedofilia identik dengan kekerasan seksual yang terjadi pada anak-anak. Gangguan ini menyebabkan penderita yang berumur dewasa memiliki ketertarikan seksual dengan anak-anak atau remaja.

  • Masokisme

Masokisme adalah sebuah gangguan yang membuat penderitanya baru akan mencapai kepuasan seksualnya setelah melakukan kekerasan fisik yang membuat korban atau pasangannya menjerit hingga menangis.

  • Eksibisionisme

Jenis gangguan seksual yang membuat penderitanya berkeinginan memperlihatkan alat kelaminnya pada orang lain.

  • Sadisme Seksual

Gangguan seksual yang satu ini hampir mirip dengan masokisme, namun perbedaannya penderita sadisme seksual sering melakukannya dengan orang lain dalam bentuk pemerkosaan bahkan dapat menyebabkan pembunuhan.

Menurut Ahli Psikologi Kriminal dan Forensik dari PTIK, Lia Sutisna Latif bahwa gangguan seksual berupa penyimpangan tindakan seksual dapat disembuhkan secara psikologis.

Bagaimana Cara Penanganan Gangguan Seksual dan Gender?

Gangguan seksual masih berhubungan dengan gangguan mental yang menyebabkan penderita memiliki kelainan tingkah laku dalam melakukan hubungan seksual, sehingga cara penanganannya pun masih berhubungan.

Berikut cara menangani gangguan seksual yang terjadi:

  • Melakukan terapi hormon untuk mencegah hormon yang mendorong penyimpangan seksual yang berbahaya
  • Melakukan psikoterapi, untuk mengubah pola pikir dan tingkah laku penderita
  • Melakukan konseling dengan psikiater secara rutin
  • Memperbaiki kegiatan dan lingkungan yang tidak sehat, supaya tidak memperburuk pola pikir dan tingkah laku

Kapan Harus Ke Dokter?

Konsultasi gangguan seksual

Penderita gangguan seksual sering kali tidak menyadari dengan kelainan yang mereka derita. Biasanya yang paling merasakan adanya kelainan tersebut adalah pasangan dan hal tersebut sering sekali menjadi pemicu utama kekerasan seksual dan perpisahan.

Segera sarankan atau lakukan konsultasi ke psikiater ketika telah dirasakan tindakan penyimpangan seksual yang terjadi pada pasangan atau diri sendiri.

Sobat Pintar, kamu tidak perlu bingung mencari tempat untuk melakukan konsultasi kesehatan mental. SiapDOK bersama dengan RSCM bekerjasama membuat aplikasi SmartRSCM untuk membantu dalam pelayanan kesehatan.

Kamu hanya perlu mengunduhnya melalui Google Play Store atau Apple App Store dan lakukan pendaftaran konsultasi yang kalian butuhkan dan kamu bisa melakukannya dimanapun dan kapanpun kamu bersedia. Yuk, unduh aplikasinya!

(Windya Aprista)

Referensi:

Artikel Psikologi, Universitas Medan Area. Jenis Kelainan Seksual Ini Perlu Diwaspadai, Ada Fetish Disorder dan Cara Mengatasi. Diakses pada 2022

Laporan Tesis Mahasiswa, Universitas Muhammadiyah Tangerang. Gangguan identitas gender dan orientasi seksual narapidana di lapas wanita klas IIA Malang. Diakses pada 2022