Skip to content
Home » Klamidia: Penyebab, Gejala, dan Pengobatan

Klamidia: Penyebab, Gejala, dan Pengobatan

Klamidia

Klamidia merupakan penyakit yang termasuk dalam kelompok infeksi menular seksual (IMS) dan faktor penyebab utamanya yaitu bakteri bernama Chlamydia trachomatis. Penyakit ini bisa dialami oleh pria maupun wanita melalui hubungan seksual. 

Bakteri ini dapat mengedarkan infeksi melalui leher rahim, saluran kencing, anus, serta tenggorokan. Sekitar dua pertiga infeksi ini banyak terjadi pada anak berusia dewasa khususnya pada rentang umur 15-24 tahun untuk wanita serta 20-24 pada pria.

Data dari World Health Organization (WHO) pada lima tahun belakangan ini terdapat 131 juta orang mengalami infeksi klamidia pada usia 15-49 tahun.

Menurut data  dari STBP 2015, prevalensi terkait klamidia di Indonesia termasuk tertinggi di dunia terutama yang terjadi pada PSK yaitu sekitar 32,21%.

Penyebab Klamidia

Faktor penyebab klamidia yaitu dipengaruhi oleh bakteri Chlamydia trachomati. Seseorang  dapat tertular bakteri ini karena adanya kontak seksual dengan si penderita melalui seks anal, seks oral, serta vaginal.

Selain itu, dapat tertular karena saat berhubungan seksual tidak menggunakan alat pengaman atau kondom yang steril. 

Organ pertama yang biasanya paling banyak diserang yaitu tenggorokan atau dubur karena hubungan seksual itu sendiri. 

Perlu diketahui Sobat Pintar bahwa klamidia sendiri tidak akan ditularkan melalui hal berikut ini: 

  1. Berpelukan
  2. Menggunakan toilet duduk
  3. Berbagi handuk serta peralatan makan dengan penderita;
  4. Saat berenang
  5. Menggunakan kamar mandi yang sama
  6. Berciuman serta pegangan tangan
  7. Melalui batuk atau bersin saat berdiri di sebelah penderita

Ibu hamil yang terinfeksi klamidia juga dapat menjadi faktor penyebab. Banyak kasus jika ibu sudah terinfeksi dipastikan bayi yang yang dilahirkan juga dapat tertular dari ibunya. 

Tanda yang biasanya ditimbulkan dari bayi yang terinfeksi yaitu mata menjadi bengkak serta bayi yang mengeluarkan cairan (konjungtivitis dan radang paru-paru). 

Gejala Klamidia

Sobat Pintar, klamidia seringkali tidak menimbulkan tanda atau gejala yang spesifik sehingga sering diabaikan oleh para penderita. Namun, secara serius akan tetap bisa menularkan ke orang lain. 

Gejala umum yaitu adanya rasa sakit atau nyeri saat buang air kecil. Gejala semacam ini baru akan dirasakan sekitar 1-3 minggu setelah adanya infeksi dari bakteri. 

Setiap orang memiliki infeksi yang berbeda pada organ tubuhnya sehingga gejalanya pun juga beragam. Wanita dan pria juga merasakan gejala yang berbeda, ini penjelasannya: 

1. Gejala Klamidia Wanita

  • Rasa sakit setelah berhubungan seksual 
  • Cairan seperti keputihan yang bau
  • Adanya rasa panas serta sakit saat buang air kecil
  • Iritasi pada area rektum (organ terakhir usus besar)
  • Mengalami pendarahan di area vagina saat melakukan hubungan seksual
  • Jika infeksi sudah semakin menyebar, si penderita biasanya akan mengalami gejala demam, mual dan muntah, sakit pada bawah perut

2. Gejala Klamidia Pria

  • Penis yang mengeluarkan cairan yang kental seperti nanah
  • Rasa gatal pada penis
  • Buang air kecil yang terasa terbakar 
  • Testis yang membesar

Penularan Klamidia

Klamidia sering ditularkan melalui hubungan seksual dengan si penderita. Akan tetapi, banyak dari orang yang menerapkan kebiasaan buruk yaitu saat melakukan hubungan tidak menggunakan kondom atau memakai kondom yang tidak steril.

Dengan kebiasaan buruk ini akan semakin meningkatkan dan mempermudah penularan dari penderita

Terlebih lagi, vagina serta penis yang melakukan sentuhan tanpa adanya penetrasi, orgasme, atau ejakulasi  juga memicu penularan klamidia.

Penyakit ini akan semakin berbahaya jika cairan infeksi tidak hanya masuk ke organ seksual saja, tetapi juga masuk ke mata karena penyebaran yang cepat dan mudah.

Pengobatan Klamidia

Pengobatan klamidia bisa berbagai macam, bisa mulai dari rumah atau ke dokter spesialis alat kelamin. Berikut penjelasanya:

1. Dari Rumah

  • Dengan diet 

Mengonsumsi buah, sayur, dan probiotik dapat mengurangi gejala klamidia. Dengan mengkonsumsi banyak makanan berserat diharapkan tubuh bisa melawan infeksi yang ada

Makanan yang memiliki kandungan probiotik yang tinggi bisa melindungi usus beserta meminimalkan efek samping dari konsumsi antibiotik 

  • Meminum Suplemen Echinacea

Echinacea merupakan tanaman untuk menjaga serta meningkatkan kekebalan tubuh.

Selain itu, adanya kandungan anti radang juga dapat akan mengatasi luka oleh adanya infeksi untuk membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

2. Cara Lain

  • Menggunakan antibiotik

Dengan antibiotik yang sesuai resep dokter dalam  jangka pendek akan meminimalisir  komplikasi lebih lanjut.

Macam-macam antibiotik yaitu ofloxacin, doxycycline, erythromycin, azithromycin, dan amoxicillin.

Untuk penderita yang berumur kurang dari 25 tahun sangat dianjurkan untuk melakukan tes urin selama menjalani perawatan dengan mengonsumsi antibiotik karena umur 25 cenderung mudah tertular kembali.

  • Hindari Berhubungan Seksual

Selama menjalani pengobatan, dokter menyarankan agar tidak melakukan hubungan seksual karena akan beresiko tertular kembali jika pengobatan belum usai.

Jika seseorang sudah dinyatakan sembuh, seseorang tetap berpotensi untuk terkena infeksi kembali karena tubuh yang sudah tidak kebal dalam penyebaran infeksi klamidia. 

Kapan Harus ke Dokter?

pengobatan klamidia

Jika Sobat Pintar mengalami gejala serta tanda yang tak kunjung membaik, segera periksa dan konsultasikan keluhanmu melalui SmartRSCM yang sudah tersedia di Google Play Store maupun Apple App Store.  

Kualitas dan mutu terjamin selalu diberikan kepada pasien agar konsultasi menjadi lebih mudah dan cepat! 

 

(Maria Angeli Adind)

Ditinjau oleh:

Referensi:

Jurnal Repository. Universitas Sriwijaya. Analisis Faktor Risiko Kejadian Infeksi Klamidia pada Wanita Pekerja Seks Langsung (WPSL) di indonesia (Analisis Data Survei Terpadu Biologis dan Perilaku tahun 2015. Diakses pada 2022

Kementerian Kesehatan. Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan. Chlamydia. Diakses pada 2022